Benarkah sholat kita?

Syariat Islam adalah satu-satunya syariat atau ajaran yang benar. Kebenaran ajaran atau syariat Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul karena bersumber dari Dzat yang Maha benar (AlHaq) dan maha Bijak (AlHakim)

Sholat merupakan syariat yang paling agung yang dijadikan barometer baik dan diterimanya bermacam amal sholeh, ketika sholat lima waktu baik dan benar (dilaksanakan sesuai pelaksanaan Rasulullah saw)  sudah pasti amal sholeh baik yang mahdhoh atau goir mahdhoh diterima dan menjadi jaminan selamat di dunia bahagia di akhirat.

Kesempurnaan syariat Islam dipertegas dengan firman Allah swt di dalam Alquran surat Al-Maidah :3

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Qs. Al-Maidah ; 3)

Seluruh syariat yang berhubungan dengan ibadah vertikal (habluminallah) sudah disempurnakan dengan berakhirnya masa turunya wahyu dan wafatnya Rasulullah saw tidak ada sedikitpun celah bagi siapapun dan apapun kedudukannya untuk menambah atau merubah mutlak sempurna tidak bisa diotak-atik sesuai selera atau kepentingan dan hendaknya tunduk serta patuh dengan ucapan sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami taat), adapun habluminnas aturan sudah sempurna, namun para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in diperbolehkan berijtihad di dalam perkara dan urusan yang tidak terdapat di dalam Alquran dan hadits menurut cara pendang manusia yang sangat terbatas dan itupun harus dikembalikan kepada para ulama baik dari kalangan ahli fiqih, hadits, tafsir dan tarikh.

Mari kita sholat kita satu persatu dari rukun-rukunya yang merupakan pondasi sahnya sholat;

1. Niat.

Niat adalah keinginan hati untuk melakukan sesuatu dengan bertujuan mengharap ridho Allah swt. Niat membedakan antara ibadah dan adat kebiasaan sehingga menentukan diterimanya suatu ibadah. 

Niat diperbolehkan dengan dilafalkan bagi orang yang tidak mampu memfokuskan hatinya kecuali dengan melafalkan niat. Niat sholat harus diikuti dengan takbiratul ihrom dengan mengangkat tangan (mengucapkan takbir disertai mengangkat tangan)

2. Berdiri menghadap kiblat

Berdiri adalah rukun sholat bagi orang yang mampu berdiri sebagaimana diperkenankan duduk bagi yang tidak mampu berdiri. Berdiri di dalam sholat berbeda sikapnya dengan berdiri di hadapan pejabat justru harus diikuti sikap khauf (takut), roja (penuh harapan) dan mahabbah (kecintaan) kepada Dzat yang menentukan hidup dan mati

3. Takbirotul Ihrom

Takbirotul ihrom adalah dilakukan dengan mengangkat tangan dengan mengucapkan الله أكبر (Allah Maha Besar), mengangkat tangan dengan posisi tangan di atas bahu atau sejajar telingan dengan menghadapkan telapak tangan kanan kiri ke arah kiblat

4. Membaca Surat Al-Fatihah

Membaca Surat Alfatihah adalah rukun sholat baik fardhu atau sunnah. bagi mu’allaf yang belum mampu membaca atau hafal diperbolehkan membaca dzikir yang dihafalnya. Membaca Fatihah seharusnya dengan merenungi arti dan makna surat tersebut sehingga diharapkan membuahkan kekhusyuan di dalam sholat . bersambung….

 

 

Tentang abuiza

mudarrisal-irsyad01
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s